All in You
Annline
They goes said, everything happens for a reason..
Also do not take everything for granted..
Sebuah frase yang sudah tidak asing didengar, 'semuanya terjadi karena sebuah alasan', rasa-rasanya memang bukan seperti hal yang baru diketahui. Namun, apakah sebenarnya maksud dibalik frase itu yang sesungguhnya?
Mari kita bedah maknanya dari sisi sederhana yang terjadi di dalam kehidupan nyata disekitar kita.
Disklaimer, apa yang akan dikemukakan di dalam tulisan ini adalah murni hasil dari perenungan dan pemikiran pribadi penulis.
Frase yang sudah tidak asing tadi, memberikan sebuah pencerahan bahwa apapun yang terjadi adalah memang sebuah takdir atau ketetapan. Namun kemudian frase itu dapat pula menggelitik dan mengantarkan pada sebuah pertanyaan, bila semua yang terjadi adalah sebuah takdir atau ketetapan, lalu bagaimana bila atau apa yang terjadi bila yang menjadi pelaku takdir turut menyebabkan pula suatu takdir itu dapat terjadi dan mengalami 'perubahan', pada dampak atau akibatnya. Terdengar ruwet dan juga kusut ya penyampaiannya atau sudah cukup dapat tersampaikan maksudnya?
Ok...
Pertama-tama, gambaran sederhananya begini, diambil dari Hukum Sebab Akibat.
*Apapun yang terjadi, selalu karena ada sebabnya, maka akibatnya pasti akan bisa muncul.
Sebuah kasus menjadi contohnya, baru saja terjadi di lingkungan sekitar penulis, ada seorang perempuan yang masih cukup muda, sudah menyandang status sebagai seorang istri. Pada sebuah malam dimana tidak turun hujan, ia yang sudah coba dijaga-jaga keberadaannya itu, tanpa sebuah pamit memutuskan meninggalkan rumah untuk tidak kembali lagi ke sebuah tempat yang selama ini memberikannya begitu banyak warna juga warni.
Kasus kemudian tanpa disengaja dapat ditelisik dan terungkap dengan sendirinya tentang
apa motif dibaliknya, sebuah tindakan ekstrem dari pasangannya yang cukup membahayakan diri perempuan muda juga mengerikan itu menjadi pemicunya.
Mengapa hal seperti diatas dikemukakan penulis, bermula pula dari perenungan pribadi dari sebuah keluhan seorang lansia penggerutu yang seharusnya sudah dapat lebih bijak, namun belum, ia mengeluhkan, meratapi, merutuki apa yang menimpanya, tanpa pernah mau menilik ke dalam dirinya, sebab apa yang telah ia tabur sehingga ia kemudian dipaksa untuk menelan karma pahit sebagai akibatnya.
Selain daripada hanya menyalahkan keadaan juga orang lain, pernahkah seorang lansia penggerutu itu mengintrospeksi dirinya sendiri dulu, merenung juga menyadari apa hal yang telah dia lakukan, hal yang tidak bisa ditolerir oleh orang lain karena perilaku semena-semenanya, perilaku merendahkan dan memandang sebelah matanya. Terutama perilakunya pada darah dagingnya sendiri yang pertama, sedari dulunya ia telah melakukan tindakan dalam sebuah frase yang dituturkan sebagai tindakan 'take it everything for granted'.
Ya, seorang lansia penggerutu itu telah melakukan apa yang digambarkan dalam frase secara terus menerus hingga ia memiliki anak mantu. Sikapnya sangat berbeda sekali pada darah daging
Pertamanya. Teramat kentara pilih kasih pada yang bukan darah dagingnya sendiri juga pada darah dagingnya yang lainnya yang begitu diistimewakan. Hingga kemudian kenyataan keadilan menamparnya. Apa yang ia elu-elukan selama ini justru malah menghancurkan hatinya bolak balik.
Jadi intinya, tidak ada yang ujug-ujug terjadi, semua ada sebab dibaliknya yang menghadirkan akibat sebagai outputnya. Juga jangan take it for granted jika pada ujungnya kamu tidak ingin kehilangan apa yang sepanjang ini tidak pernah kamu hargai dan syukuri juga tidak pernah kamu anggap keberadaannya juga segala pengorbanan dan bantuannya.
Kamu setuju juga nggak untuk tidak take it everything for granted, dan apa pendapat kamu tentang everything happens for a reason.
Coba komen di kolom komentar yaaa
0 Komentar