Lompatan Waktu

 Lompatan Waktu

Annline






Apakah kamu sama denganku? Apakah kamu merasakan hal yang sama denganku? bahwa waktu itu...


Waktu itu berjalan dengan cepat sekali. Sepertinya waktu yang dulu berbeda rasanya dengan waktu yang sekarang perihal kecepatannya, terutama jika kamu pernah berada dan merasakan kehidupan di pedesaan, waktu terasa begitu lambat. Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Apalagi jika kamu berada di perkotaan dengan segala hiruk pikuknya, maka waktu yang segera tergerus itu tidak dapat diperlambat meski sebentar saja. 

Waktu berputar begitu saja tanpa terasa. Tahu - tahu kita sudah berada di era yang sangat berbeda dengan era yang kita jalani dan rasakan dua puluh tahun bahkan sepuluh tahun yang lalu. Semuanya tidak ada yang sama. Semuanya sudah berubah.

Rasa - rasanya disaat ini tidak ada orang yang tidak mengenal dan memiliki gadgetnya masing - masing. Sungguh suatu hal yang tidak mungkin, bila orang zaman now bisa dipisahkan dari gadgetnya barang sebentar saja, kecuali kamu tinggal di pelosok dan daerah yang sangat tertutup dan tertinggal sekali, tapi nyatanya kemudian diketahui pula bahkan mereka yang tinggal di sebuah kampung yang konon kabarnya jauh dari peradaban saja, orang - orang di lingkungan terluarnya masih bisa terhubung pula dengan telepon genggam dengan aplikasi yang bisa diakses ke seluruh penjuru negeri hingga dunia. Semua orang akan memegang gadget miliknya setiap hari, setiap saat, dimana saja.  Laki - laki dan perempuan. Tua dan muda. Apapun latar belakang, pendidikan hingga pekerjaan. Semuanya. Hampir semuanya tanpa terkecuali, bahkan anak - anak yang terlahir di masa - masa ini disinyalir sudah melek teknologi sejak masih di dalam kandungan. Tidak mengherankan apabila kemudian jari - jari mungil mereka menjadi begitu fasih menswipe layar monitor tanpa ada yang membimbing dan mengajari.


Eranya Zaman Milenial

Era saat ini menurutku, adalah milik para generasi mileneal. Dipundak mereka tampuk kepemimpinan akan dikalungkan. Di era yang kini menjadi serba online ini, mereka akan dapat dengan mudah sekali beradaptasi dan membaur dengan segala kemajuan teknologi yang ada. Di era ini berbagai jenis aplikasi bermunculan. Media sosial memiliki daya magis yang sangat kuat bahkan wajib keberadaannya. Sama sekali tidak ada masalah bagi mereka untuk melebur dengan gaya dan cara yang lebih modern. Kehidupan sehari - hari diwarnai 'kecanggihan', seperti halnya cara berkomunikasi, berteman dan bersosialisasi, cara berbelanja, cara pembayaran, belajar hingga perayaan momen saklar kini juga bisa ditayangkan secara langsung melalui media sosial. 


Lompatan Waktu Bagi Lintas Generasi, perlu adapatasi dan penyesuaian. Terjadi pula pergeseran atau perubahan. Media sosial yang cukup merajai di era ini adalah Instagram. Video yang awalnya cukup diminati kemudian merambah menjadi You Tube yang lebih ramai ditonton, lalu kini ada Tik Tok pula yang tidak kalah favoritnya dan dirasa yang lebih kekinian.


Pergeseran tidak hanya di Teknologi tapi juga Budaya

Mengenai hal yang satu ini, sifatnya relatif, tidak bisa disamaratakan, keabsahannya hanya sebatas subjektifitas saja, seperti yang diketahui dan dituturkan oleh Eboni berikut ini...

Di pagi menjelang siang hari itu, Eboni mendapatkan kabar dari Alba. Seperti yang sudah - sudah, Alba tidak pernah memberikan respon yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Eboni. Alba seperti selalu hendak memutarnya ke arah yang lain. Entah apa maksudnya. Eboni tidak berharap banyak, cukup direspon baik sesuai arah tujuan saja. Tapi, ya namanya juga Alba..

"Eb, gue sama Damar udah nggak tinggal bareng lagi." tiba - tiba Alba menyampaikan hal itu. Ia pun kemudian menceritakan perihal perasaannya, perasaan kehilangannya, sedih juga rindunya.

"What? gimana - gimana..?" Eboni jelas bingung dan bertanya - tanya apa maksudnya. Karena selama ini Alba seperti menutupi kenyataannya meski walau tidak diberitahu sebelumnya Eboni sudah dapat mengendusnya. Alba hampir selalu berlagak biasa di depan Eboni, berusaha menyembunyikan sebuah hubungan yang diakui sebagai pertemanan. Alba mengaku hanya berteman biasa saja dengan Damar persis sama seperti kepada teman yang lainnya. Intuisi Eboni tidak meyakini itu, dan dia amat bersyukur karena tidak memiliki rasa yang berbeda pada Damar, pun Damar yang entah bagaimana.

"Iya, jadi kita udahan, dia udah nggak tinggal bareng gue lagi. KIta udah nggak bobo bareng lagi."

Terkuaklah akhiirnya cerita yang sesungguhnya. Alba akhirnya mengakui bahwa selama ini memang ada hubungan yang lebih dari teman antara dirinya dan Damar. Perihal ini itu tentang mereka hingga kemudian tentang karamnya.

Yang kemudian menjadi sorotan sedikit untukku yang terkait pula dengan lompatan waktu adalah perihal bobo barengnya atau istilahnya living together yang sudah tidak asing bagi orang luar, tapi tempat dan budaya kita kan berbeda dengan mereka. kok bisa hal seperti itu dipraktekkan disini dan aman - aman saja. Lalu apa yang kemudian dapat terjadi diantara mereka berdua, sungguh merupkan urusan pribadi mereka. Hanya saja yang membuatku jadi bertanya-tanya adalah pertanda apakah ini? meski semuanya serba relatif dan tergantung dari sudut mana kita memandangnya, sebab sebenarnya ada makna yang tersembunyi pula dari konsep tinggal bersama itu diluar konteks yang dianggap tabunya itu.

Apakah ini artinya juga telah terjadi semacam pergeseran budaya dalam sebuah hubungan antara lawan jenis? layaknya terjadi pergeseran teknologi dari telepon koin ke android? dalam rentang lompatan waktu yang terus berputar?   


@kubbu_bpj @annline

#KUBBU30HMC #writingchallenge #day24

#tantanganmenulis #30harimenuliscerita #bebas


Posting Komentar

0 Komentar